Arsip untuk ‘PEMBENIHAN IKAN GRASS CARP (Ctenopharyngodon idella)’ Kategori

PEMBENIHAN IKAN GRASS CARP (Ctenopharyngodon idella)

13 Maret 2010

I. PENDAHULUAN
Grass Carp (Ctenopharyngodon idella) berasal dari China bagian timur dan USSR didatangkan ke Indonesia pada tahun 1915 di Sumatera dan pada tahun 1949 didatangkan ke Jawa dengan tujuan untuk dibudidayakan.
Ikan Grass Carp atau dikenal juga dengan nama ikan Koan merupakan ikan herbivora yang hidup di air tawar. Ikan jenis ini pemakan tumbuhan air seperti Hydrilla sp, Salvinia, rumput-rumputan dan tumbuhan air lainnya, sehingga jenis ini dapat dipakai sebagai ikan pengendali gulma air baik di kolam maupun di perairan umum.

II. BIOLOGI
-Secara sistematis ikan Grass Carp termasuk dalam kelas Osteichthyes, ordo Cypriniformes, famili Cyprinidae.
-Ikan Grass Carp dapat mencapai ukuran maksimal : panjang 120 cm dan bobot tubuh 20 kg.
-Ciri-ciri fisik ikan ini adalah warna abu-abu gelap kekuningan dengan campuran perak kemilau, badan memanjang, kepala lebar dengan moncong bulai pendek, gigi paringeal dalam deretan ganda dengan bentuk seperti sisir.
-Induk Grass Carp sudah dapat memijah pada umur 3 s/d 4 tahun dengan berat betina mencapai 3 kg dan jantan 2 kg, pemijahan biasanya terjadi pada musim penghujan.

III. PEMBENIHAN
A. Pemeliharaan Induk
Induk-induk dipelihara di kolam dengan kepadatan 0,2 s/d 0,3 kg/m2 setiap hari selain diberi pakan tumbuhan air atau rumput-rumputan juga diberi pakan buatan berupa pellet sebanyak 3% dari berat total populasi dengan frekuensi pemberian sebanyak tiga kali per hari.
Tanda tanda induk matang gonad :
-Betina : Perut bagian bawah membesar bila ditekan terasa lembek, lubang kelamin kemerahan dan agak menyembul keluar serta gerakan relatif lamban.
-Jantan : Dibandingkan dengan betina sirip dada bagian atas lebih kasar dan bila bagian perut diurut ke arah lubang kelamin akan keluar cairan berwarna putih.

B. Pemijahan
Cara pemijahan. ikan Grass Carp dapat dilakukan dengan beberapa cara diantaranya :
a. Induced breeding
-Pemijahan secara “induced breeding” yaitu dengan menyuntikan hormon perangsang yang berasal dari kelenjar hipofisa ikan donor atau menggunakan ovaprim.
-Induk betina disuntik dua kali dengan selang waktu 4 s/d 6 jam, apabila menggunakan kelenjar hipofisa 2 dosis tetapi bila menggunakan ovaprim dengan dosis 0,5 ml/kg. Penyuntikan pertama 1/3 bagian dan penyuntikan kedua 2/3 bagian.
-Induk jantan disuntik sekali bila menggunakan kelenjar hipofisa 1 dosis, bila menggunakan ovaprim 0,15 cc/kg dan dilakukan bersamaan dengan penyuntikan kedua pada induk betina.
-Kedua induk ikan setelah disuntik dimasukkan ke dalam bak pemijahan yang dilengkapi dengan hapa, enam jam setelah penyuntikan pertama diperiksa kesiapan ovu/as/hya setiap satu jam sekali.
-Ikan yang akan memijah biasanya dicirikan dengan saling kejac, perut besar dan lunak, keluar cairan kuning dari lubang kelamin atau lubang kelaminnya berwarna kemerah-merahan dan agak menyembul keluar.
-Setelah tanda-tanda tersebut terlihat, induk jantan dan betina diangkat untuk dilakukan striping yaitu dengan mengurut bagian perut ke arah lubang kelamin. Telurnya ditampung dalam wadah/baki plastik dan pada saat bersamaan induk jantan disthping dan spermanya ditampung dalam wadah yang lain kemudian diencerkan dengan lamtan fisiologis (NaCI 0,9%) atau cairan infus Sodium Klonda.
-Sperma yang telah diencerkan dimasukkan ke dalam wadah telur secara perlahan-lahan serta diaduk dengan menggunakan bulu ayam. Tambahkan air bersih dan aduklah secara merata sehingga pembuahan dapat berlangsung dengan baik. Untuk mencuci telur dari darah dan kotoran serta sisa sperma, tambahkan lagi air bersih kemudian airnya dibuang. Lakukan beberapa kali sampai bersih, setelah bersih telur dipindahkan ke dalam wadah yang lebih besar dan berisi air serta diberi aerasi, biarkan selama kurang lebih sa.tu jam sampai mengembang secara maksimal.

b. Induced spawning
-Pemijahan secara “induced spawning” perlakuannya sama seperti pada pemijahan induced breeding, hanya setelah induk jantan dan betina disuntik, dimasukkan ke dalam bak pemijahan dan dibiarkan sampai terjadi pemijahan secara alami.
-Setelah memijah maka induk jantan dan betina dikeluarkan dari bak pemijahan dan telur yang sudah dibuahi ditampung dalam wadah yang berisi air serta diaerasi dan dibiarkan sampai mengembang secara maksimal.

C. Penetasan Telur
Penetasan dilakukan di dalam hapa corong berdiameter 40 cm dan tinggi 40 cm dengan mengalirkan air dari bawah sebagai aerasi dan untuk memutar air. Padat penebaran telur 10.000 butir/corong. Telur akan menetas dalam waktu ± 24 jam pada suhu 26 ° C.
Selain di dalam hapa corong, penetasan juga dapat dilakukan di akuarium (40 X 60 X 40) cm yang dilengkapi aerasi. Padat penebaran telur 5.000 butir/akuarium pada suhu 27 s/d 29° C, telur akan menetas dalam waktu ± 20 jam.

D. Pemeliharaan Larva
Setelah menetas larva dipelihara pada corong yang sama, namun sebelumnya telur-telur yang tidak menetas dibuang dahulu. Lama pemeliharaan dalam corong empat hari. Apabila telur ditetaskan di dalam akuarium, setelah menetas larva bisa dipelihara pada akuarium yang sama namun sebelumnya telur yang tidak menetas dan % bagian airnya dibuang terlebih dahulu dan diisi dengan air yang baru. Larva yang sudah berumur empat hari diberi pakan alami berupa nauplii Artemia, Brachionus atau Moina. Pemeliharaan larva selama 10 hari dan selama pemeliharaan air harus diganti setiap hari sebanyak 2/3 bagian.

E. Pendederan a. Pendederan pertama
-Persiapan kolam pendederan dilakukan seminggu sebelum penebaran larva yang meliputi : pengeringan, perbaikan, pematang, pengolahan tanah dasar dan pembuatan kemalir. Kolam yang digunakan luasnya 500 s/d 1.000 m2.
-Kolam kemudian dikapur dengan kapur tohor. Dosis pengapuran 50 s/d 100 gr/m2, caranya kapur tohor dilarutkan terlebih dahulu kemudian disebarkan secara merata ke seluruh pematang dan dasar kolam.
-Pemupukan dengan menggunakan kotoran ayam. Dosis pemupukan 500 s/d 700 gr/m , kemudian diisi air setinggi 40 cm dan setelah 3 hari kolam disemprot menggunakan organophosphat 4 ppm.
-Selang 4 s/d 6 hari setelah penyemprotan benih Grass Carp sudah dapat ditebar, sebaiknya pada pagi hari. Padat penebaran 300 s/d 400 ekor/m2.
-Pemeliharaan di kolam pendederan pertama selama 21 hari. Pakan tambahan diberikan setiap hari berupa pellet halus sebanyak 75 gr/1.000 ekor larva dengan frekuensi pemberian pakan 3 kali per hari.

b. Pendederan kedua
-Persiapan kolam pada pendederan kedua dilakukan sama seperti pada pendederan pertama.
-Padat penebaran larva 50 s/d 100 ekor/m2. Larva setiap hari diberi pakan tambahan berupa pellet sebanyak 10% dari biomass dengan frekuensi pemberian pakan 3 kali per hari.
-Lama pemeliharaan pada pendederan kedua selama 28 hari.

IV. PENYAKIT
Penyakit yang sering menyerang benih Grass Carp adalah parasit, yaitu : Tfichodina, Gyrodactylus, Glosatella, Scypidia, Chillodonella, yang biasanya menyerang bagian permukaan tubuh dan insang. Cara mengatasinya dengan pemberian formalin 25 ppm.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.